Showing posts with label Penyakit. Show all posts
Showing posts with label Penyakit. Show all posts

Thursday, March 22, 2018

Makan Melon Kuning, Tiga Warga Australia Meninggal


melon kuning sebabkan tiga orang meninggal
Melon kuning atau rock melon terkontaminasi bakteri listeria
menyebabkan tiga warga Australia meninggal dunia.

Tiga warga Australia  meninggal setelah memakan rock melon (cantaloupe) yang terkontaminasi bahkteri  monocytogenes listeria. Buah melon ini diduga diproduksi oleh kebun buah-buahan di New South Wales. Pejabat kesehatan setempat, Dr Vicky Sheppeard mengatakan kasus listeriosis mulai mulai sejak sebulan lalu. Ada 15 kasus yang didominasi oleh orang lanjut usia.

"Kami dapat mengkonfirmasikan bahwa 13 pasien dari 15 kasus listeriosis mengaku mengkonsumsi melon sebelum timbulnya penyakit mereka. Kami mengimbau, setiap orang yang rentan terhadap listeriosis harus membuang melon yang dibeli sebelum 1 Maret," ujar Dr Vicky Sheppeard dilansir dari news.sky.com.

Namun, untuk masyarakat Indonesia tidak perlu terlalu khawatir karena Kementrian Pertanian menutup sementara impor rock melon dari Australia. Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini mengatakan hal ini sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat Indonesia.

“Petugas karantina akan melakukan penolakan dan pemusnahan di tempat apabila dijumpai pemasukan buah melon impor ini yang masuk melalui negara tetangga Singapura dan Malaysia,” ujar Banun di Jakarta, Rabu, 7 Maret 2018.

Gejala Listeriosis

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes , dr. H. M. Subuh, MPPM mengatakan bakteri listeria dapat menyebabkan infeksi serius dan fatal pada bayi, anak-anak, orang sakit,  lanjut usia, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.


Orang sehat juga dapat terinfeksi bakteri Listeria, dengan gejala jangka pendek yang muncul seperti demam tinggi, sakit kepala parah, pegal, mual, sakit perut dan diare.  “Infeksi Listeria dapat menyebabkan keguguran pada perempuan hamil,”  ujar dr. Subuh dikutip dari laman resmi depkes.go.id.

Listeriosis merupakan salah satu penyebab penyakit serius dengan tingkat kematian  sekitar 20-30 persen, terutama pada bayi yang baru lahir, infeksi listeria dapat menyebabkan kematian  25-50 persen.

Gejala Listeriosis dapat muncul kapan saja antara 3-70 hari pasca infeksi bakteri Listeria, rata-rata biasanya sekitar 21 hari. Gejala umumnya, yaitu:
  • Demam,
  • Nyeri otot,
  • Disertai mual atau diare (kurang umum).
  • Infeksi dapat menyebar ke sistem saraf pusat (SSP) menyebakan sakit kepala, kaku pada leher, bingung, kehilangan keseimbangan, dan terkadang mengalami kejang.
  • Orang dengan sistem kekebalan yang lemah, bakteri Listeria dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan meningitis atau infeksi otak.
  • Pada wanita hamil muncul gejala seperti flu ringan. Namun, infeksi selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran, infeksi pada bayi yang baru lahir, atau bayi lahir mati.
  • Gejala juga biasanya muncul pada bayi baru lahir di minggu pertama kehidupan, tetapi juga dapat terjadi di kemudian hari. Gejala pada bayi baru lahir sering tidak terlihat, biasanya bayi demam dan tidak mau makan.

Penularan listeria

Penularan bakteri listeri dapat terjadi mulai dari  pemilihan makanan, pengolahan, hingga penyajian. Penularan dapat terjadi pada produk susu mentah, susu yang proses pasteurisasinya kurang benar, keju (terutama jenis keju yang dimatangkan secara lunak).

Produk lain yang dapat menularkan bakteri ini  yaitu es krim, sayuran mentah, sosis dari daging mentah yang difermentasi, daging unggas mentah dan yang sudah dimasak, semua jenis daging mentah, dan ikan mentah atau ikan asap.  “Penularan saat pengolahan itu biasanya terjadi jika alat masak yang digunakan terkontaminasi listeria,” kata dr. Subuh.

Lakukan Ini Untuk Pencegahan

Lakukan kebiasaan hidup bersih dan sehat untuk mencegah pencemaran bakteri listeria.
  • Bilas bahan mentah dengan air mengalir, seperti buah-buahan dan sayuran, sebelum dimakan, dipotong, atau dimasak. Bahkan jika hasil tersebut sudah dikupas, tetap harus dicuci terlebih dahulu;
  • Gosok produk hasil pertanian, seperti melon dan mentimun menggunakan sikat bersih sebelum disimpan, dan keringkan produk dengan kain bersih atau kertas;
  • Pisahkan daging mentah dan unggas dari sayuran, makanan matang, dan makanan siap-saji;
  • Cuci peralatan masak, berupa alat atau alas pemotong, yang telah digunakan untuk daging mentah, unggas, produk-produk hewani sebelum digunakan pada produk makanan lainnya;
  • Cuci tangan menggunakan sabun sebelum mengolah makanan, dan saat akan makan.

“Pencegahan secara total mungkin tidak dapat dilakukan. Namun makanan yang dimasak pada temperatur 75 derajat celsius dan disimpan dengan baik aman untuk dikonsumsi,” tutur dr. Subuh


Dia memaparkan bakteri Listeria monocytogenes merupakan bakteri gram positif yang bergerak menggunakan flagella. Penelitian menunjukkan 1-10% manusia mungkin memiliki bakteri listeria di ususnya. Bakteri ini ada di lingkungan sekitar, dapat ditemukan di tanah, kotoran hewan, dan pada pakan ternak yang berasal dari daun-daun hijau yang difermentasi.

Sebagai bakteri yang tidak membentuk spora, listeria sangat kuat dan tahan terhadap panas, asam, dan garam. Bakteri ini juga tahan terhadap pembekuan dan tetap dapat tumbuh pada suhu 40 derajat celcius. Bakteri ini juga membentuk biofil yaitu lapisan lendir pada permukaan makanan. ()





Monday, March 5, 2018

Waspada ! Ternyata Stres Menular


Stres Menular
Stres menular dari satu orang kepada orang lain saat mereka saling bertemu.


Suasana tenang di pagi hari, matahari bersinar cerah, Anda dan keluarga sarapan pagi bersama dengan menu kesukaan. Rumah bersih dan wangi sambil melepas anak-anak berangkat sekolah. Suasana yang sangat menyenangkan dan menenangkan bukan?

Setelah semua berjalan baik dan tenang, tiba-tiba istri Anda mengajak Anda ke kamar, bicara empat mata tentang tagihan-tagihan yang harus dibayar bulan ini, atau tiba-tiba rekan kerja Anda menelpon ingin ‘curhat’ tentang tekanan kerja yang diberikan Bosnya di kantor. Pada saat itu, tanpa sadar, Anda mengucapkan selamat tinggal kepada ketenangan dan menyapa ‘helo’ kepada pusat stres.

Yups, stres menular! Menurut salah satu studi terbaru di Universitas Calgary, dampak yang paling buruk dari penularan stres ini adalah perubahan yang terjadi kepada otak Anda. Hasil penelitian ini dipublikaskan di Jurnal Nature Neuroscience, Maret 2018.


Para peneliti melakukan percobaan pada dua tikus yang bersaudara, satu betina dan satu jantan. Kedua tikus ditempatkan di kandang yang terpisah. Tikus jantan ditempatkan di kandang dengan suasana santai dan nyaman, sedangkan tikus betina diberi perlakukan tertentu hingga menderita stres.

Kemudian, tikus yang mengalami stres dipertemukan kembali dengan saudaranya yang berada dalam suasana tenang. Dari hasil pertemuan mereka tersebut, para periset menemukan terjadi tranmisi sinyal stres atau feronom dari satu tikus ke tikus yang lain.

Sejumlah penelitian terdahulu telah menyoroti dampak stres kronis terhadap hippocampus, yaitu bagian otak yang berperan kepada kegiatan mengingat (memori) dan belajar (learning).

Pembentukan formasi memori yang tepat terjadi ketika hubungan antara neurons di hippocampus diperkuat sepanjang waktu, proses ini disebut dengan potensiasi jangka panjang atau long-term potentiation (LTP). Sementara, tekanan yang berkepanjangan melemahkan hubungan antar neurons sehingga menurunkan  LTP dan mengurangi memori.


Penelitian ini menemukan bahwa efek hippocampus itu tidak hanya terjadi pada tikus yang mengalami stres, tapi juga terjadi pada tikus lain yang dipertemukan dengan tikus stres.

“Perubahan neuron perespon stres di hippocampus tikus yang mengalami stres identik dengan tikus yang awalnya tidak mengalami stres,” ujar penulis studi Toni-Lee Sterley, seperti yang dikutip  dari Medical News Today. Artinya, tikus stres menularkan stresnya kepada tikus yang tidak stres.

Namun, ada kabar baik untuk perempuan, dari penelitian tersebut ditemukan bahwa tikus betina yang tertular stres dari tikus lainnya mampu membalikkan efek pada otak mereka lewat bergaul dengan tikus lain yang  tidak tertekan. Namun, kemampuan ini tidak tidak ditemukan pada tikus jantan. (R)


Wednesday, February 21, 2018

8 Gejala Gangguan Kecemasan Kronis



Perfeksionis, obsesif, dan tidak bisa berkata tidak?
Bisa jadi Anda mengalami gangguan kecemasan.

Kecemasan merupakan penyakit mental yang umum terjadi, di Australia satu dari tiga wanita mengalami kecemasan kronis atau kecemasan frekuensi tinggi. Dilansir dari womenshealth.co.au, penderita yang mengalami gangguan kecemasan frekuensi tinggi ini biasanya mengalami serangan panik yang membuatnya tidak mampu berpikir dan menarik diri dari dunia luar. 

Psikolog SANE Australia, Suzanne Leckie, mengatakan kecemasan dapat mempengaruhi setiap orang dengan gejala berbeda, dan kecemasan frekuensi tinggi merupakan manifestasi dari kondisi tersebut.

"Terkadang orang yang mengalami kecemasan secara tidak sadar menarik diri dengan menghindari  aktivitas yang dapat memicu kecemasannya, tapi ada juga sebaliknya,  orang tersebut justru bisa memotivasi dirinya untuk berusaha lebih keras dalam semua aspek kehidupannya," kata Leckie.

Dia menjelaskan orang yang hidup dengan tingkat kecemasan tinggi adalah orang-orang yang berorientasi pada prestasi, perfeksionis, dan memiliki motivasi serta semangat tinggi. “Mereka melihat realitas seperti lomba balap, menjadikan mereka selalu gelisah dan merasa tidak cukup baik dalam melakukan sesuatu,” tuturnya.

Gejala orang dengan kecemasan tinggi ini seperti selalu memikirkan bencana, sikap khawatir yang berlebihan dan mudah marah.


"Orang-orang yang mengalami kecemasan tingkat tinggi ini cenderung melakukan berbagai cara untuk mengatasi ketakutan dan keraguan yang mereka alami,” katanya. Jika Anda mengalami ini, maka ini salah satu tanda Anda sedang berjuang melawan kecemasan.

Orang Menilai Anda Perfeksionis

Di tempat kerja, di rumah, atau di tempat gym, Anda selalu berusaha melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Anda berprinsip menyelesaikan semuanya dengan sempurna atau tidak sama sekali. “Kalau bukan saya yang terbaik, maka saya adalah yang terburuk.”

Mengendalikan Rutinitas Dengan Ketat

Perfeksionis dapat dilihat dari sikap Anda yang mengendalikan kebiasaan dan rutinitas dengan sangat ketat, tapi itu Anda rasakan sebagai salah satu cara bertanggungjawab terhadap hidup Anda. Terlambat datang ke kantor, ketinggalan latihan aerobik rutin atau salah memilih warna busana dapat membuat Anda pusing tujuh keliling.

Selalu Sibuk

Anda membuat daftar tugas yang banyak, bahkan merancang banyak rencana untuk kegiatan di akhir pekan. Bisanya Anda akan melontarkan candaan bahwa kesibukan membuat Anda merasa bahagia. Namun, tanpa Anda sadari, dengan terus menerus memikirkan apa yang akan terjadi, itu justru memicu kecemasan tinggi dalam diri Anda.

Tidak Bisa Tidur Nyenyak

Segala hal yang berputar dan menari di kepala Anda di malam hari merupakan refleksi dari apa yang Anda pikirkan dan cemaskan selama seharian. Kondisi ini membuat Anda tidak dapat tidur nyenyak dan mengalami gangguan tidur.

Sakit, Nyeri, Kebiasaan Berulang

Seringkali kondisi mental memiliki dampak ke kondisi fisik Anda, misalnya nyeri di perut, atau rasa sakit dan pegal-pegal di leher. Kebiasaan menggigit kuku, menggigit bibir, mengetuk-ngetukkan kaki, atau asyik mengelupaskan kulit kaki menunjukkan Anda sedang tertekan dan mengalami kecemasan tingkat tinggi.


Orang Sulit Membaca Emosi Anda

Orang menilai Anda selalu bugar, tidak emosional, tapi Anda tahu bahwa hal tersebut jauh dari yang sebenarnya. Ingatlah, dengan menutupi kecemasan Anda untuk diri sendiri, maka Anda sedang membatasi emosi  untuk berusaha berpikir logis dan rasional.

Takut Mengecewakan Orang Lain

Sikap obsesif dan  selalu membicarakan diri secara negatif, menyalahkan diri sendiri,  merupakan indikasi besar bahwa Anda mengalami kecemasan frekuensi tinggi. Dan, sikap khawatir bahwa Anda akan mengecewakan orang-orang disekeliling Anda itu sudah menjadi kebiasaan.

Sulit  Mengatakan Tidak

Takut mengecewakan orang lain mendorong Anda mengambil keputusan menangani sesuatu yang mungkin tidak mampu Anda lakukan. Anda tidak pernah mengatakan tidak untuk mengerjakan suatu proyek, kegiatan sosial, atau membantu teman, meski  itu sudah diluar batas kemampuan Anda.

Jika Anda mengalami kecemasan tingkat tinggi seperti ini, apa yang dapat Anda lakukan?  “Terapi perilaku kognitif  bisa membantu orang membangun keterampilan untuk menantang pikiran-pikirannya yang irasional, misalnya mempertanyakan sikap perfeksionis yang justru memicu gangguan kecemasan tingkat tinggi,” tuturnya. (R)



Monday, February 19, 2018

Suara Bising Picu Gagal Jantung dan Stroke

Suara Bising Picu Gagal Jantung dan Stroke
Tinggal di pinggir rel kereta api menyebabkan kebisingan konstan
yang akan mempengaruhi kesehatan seluruh anggota keluarga.


Memiliki tempat tinggal dibawah jalur penerbangan atau di pinggir rel kereta api dan jalan raya yang ramai akan membuat hari-hari sangat bising dan tidak nyaman. Sebuah penelitian membuktikan pilihan tempat tinggal mempengaruhi kesehatan jantung anggota keluarga Anda.

Dalam penelitian terbaru, Februari 2018,  dijelaskan bahwa polusi suara tidak hanya berkaitan dengan gangguan, stres, gangguan tidur, dan gangguan kinerja kognitif. Namun polusi suara juga memicu masalah kardiovaskular serius seperti hipertensi arterial, infark miokard (penyumbatan otot jantung), gagal jantung, dan stroke.

"Kebisingan bukan hanya menyebabkan gangguan, itu justru membuat kita sakit," kata penulis utama, Dr. Thomas Münzel kepada Newsweek seperti dilansir dari womenshealth.co.au.

Satu kali suara keras hantaman palu pada logam mungkin tidak akan mempengaruhi Anda, tapi paparan suara keras yang berlangsung secara konstan  akan memiliki dampak yang lama. Paparan suara diatas 60 desible dapat memicu stres dalam tubuh dan melepaskan hormon kortisol yang bisa merusak jantung.

Bukan hanya jantung Anda yang beresiko, lanjur Munzel, kebisingan yang berlangsung secara konstan juga dapat menyebabkan  diabetes tipe 2, depresi, dan gangguan kecemasan.


"Jumlah penduduk yang terapapar polusi suara akibat kebisingan transportasi semakin meningkat, karena itu sangat penting untuk membuat peraturan baru untuk mengurangi kebisingan demi kesehatan masyarakat,” ujarnya. (R)


Tuesday, February 13, 2018

Nyeri Syaraf Hilang Setelah Berenang di Air Dingin


nyeri syaraf sembuh setelah berenang di air dingin
Berenang di air dingin meningkatkan aktivitas gelombang syaraf
sehingga membantu meredakan nyeri syafar.


Berenang di air dingin memberi manfaat yang sangat besar bagi seorang lelaki berusia 28 tahun yang menderita nyeri saraf kronis. Dikutip dari time.com, studi kasus ini diterbitkan di jurnal BMJ, Senin (12 Februari 2018).

Dalam jurnal diceritakan bahwa seorang pria yang mengalami nyeri saraf kronis selama 10 minggu usai menjalani operasi wajah karena penyakit flushing  (rona merah yang biasa menyerang pipi, leher, atau telinga).

Dokter menggunakan prosedur yang melibatkan pemotongan saraf di area dada untuk mengurangi flushing tersebut. Usai operasi, pasien mengalami nyeri saraf  di dada yang membuatnya lemah dan kesakitan. 

Para peneliti memaparkan, obat-obatan tidak dapat meredakan nyeri pasien tersebut, bahkan terapi fisik berupa olahraga ringan pun  memperburuk keadaan pasien.

Putus asa dengan kondisinya, pasien yang sebelumnya merupakan atlit  triatlon itu memutuskan untuk di perairan terbuka. Dia berpikir, berenang akan mengalihkan pikirannya dari rasa nyeri yang dia alami. Namun, setelah terjun ke sungai dengan suhu  51 derajat dan berenang hanya satu menit, nyeri sarafnya langsung hilang dan tidak kambuh lagi.

“Untuk pertama kalinya setelah bebeberapa bulan dengan nyeri saraf, saya benar-benar lupa akan rasa sakit dan takut atas nyeri yang menusuk di dada saya ketika saya bergerak,” ujar pasien kepada para peneliti.


“Itu saya lakukan hanya atas dorongan adrenalin yang mendalam. Saya yakin tidak akan merasakan sakit jika saya mencobanya,” tutur pasien. “Ketika saya keluar dari air, saya baru menyadari bahwa nyeri saraf saya hilang. Dan, saya tidak percaya ini benar-benar terjadi,” katanya.

Treatment yang tidak terduga ini membuat dokter garuk-garuk kepala, kasus seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Pada kenyataannya, para peneliti ragu untuk menyatakan bahwa air dingin sebagai faktor penyembuh nyeri saraf pria tersebut. Walaupun, dalam tulisan di jurnal tersebut, mereka mengakui tidak ada penjelasan alternatif lain.

Para peneliti berspekulasi, kejutan yang disebab air dingin mempercepat aktivitas gelombang saraf sehingga mengubah aktivitas otak pria tersebut, termasuk persepsinya terhadap rasa sakit.

Ditambah lagi, kelebihan sensoris karena berenang di air dingin mengalihkan perhatian pria tersebut atas rasa sakitnya, serta membuatnya dapat bergerak bebas yang berpotensi memicu efek abadi di otak dan tubuh.

Kepribadian pria tersebut juga diduga ikut berperan. Kedekatannya dengan olahraga ekstrim dan kesukaannya akan hal-hal baru memungkinkannya menerima terapi yang unik dan tidak biasa.

Penelitian tentang manfaat berenang di air dingin ini masih langka, meski beberapa penelitian menyatakan berenang di air dingin dapat membantu pemulihan atletik dan terapi depresi.

Laporan baru ini masih menimbulkan banyak pertanyaan dan membutuhkan banyak jawaban. Namun, hasil yang mengesankan dari kasus pria tersebut, berenang di air dingin tersebut layak untuk diteliti lebih lanjut, ujar para peneliti. (R)




Thursday, January 18, 2018

Kanker Payudara Bisa Kambuh Dalam 15 Tahun

kanker payudara
Kanker payudara bisa kambuh dalam 15-20 tahun
setelah serangan yang petama.

Wanita yang mengalami kankerpayudara reseptor estrogen (ER+) memiliki resiko kekambuhan pada 15 hingga 20 tahun mendatang setelah dinyatakan sembuh dari kanker  yang dideritanya. Hasil penelitian ini dipublikasikan di New England Journal of Medicine, Rabu, 8 November 2017, seperti dikutip dari thejakartapost.com.

Kanker payudara reseptor estrogen ini merupakan tipe kanker payudara yang paling banyak ditemukan saat ini, dimana sel-sel kanker di dalam tubuh sedang tumbuh dalam hormon estrogen.

Para peneliti menemukan kekambuhan yang paling tinggi terjadi pada wanita dengan tumor yang besar dan mempengaruhi empat atau lebih kelenjar getah bening.  Mereka menganalissi data dari 88 uji klinis yang melibatkan hampir 63.000 wanita yang dinyatakan positif terkena kanker payudara reseptor estrogen.

Pasien dalam penelitian ini semua menerima terapi endokrin, seperti tamoxifen yang merupakan standar perawatan untuk mengurangi risiko kekambuhan kanker  selama lima tahun ke depan. Dengan pemberian tamoxifen,  diharapkan pasien bisa benar-benar bebas dari kanker saat terapi dihentikan. 

Baca Juga : Kunyit Potensial Obati Endometriosis (Penebalan Dinding Rahim)

"Meskipun pasien bebas dari kekambuhan kanker dalam lima tahun pertama, tapi risiko terkena kanker kembali ke tempat lain seperti di tulang, hati atau paru-paru setelah tahun ke 5 hingga ke tahun 20 tetap konstan,” kata penulis senior Daniel Hayes , Profesor di bidang penelitian kanker payudara dari University of Michigan Comprehensive Cancer Center.

Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa pasien yang memiliki ukuran tumor besar dan mempengaruhi empat kelenjar getah bening memiliki tingkat kekambuhan hingga 40% selama 15 tahun ke depan. Sedangkan, pasien dengan ukuran tumor kecil dan  tidak menyebar ke kelenjar getah bening, memiliki tingkat kekambuhan 10%  dalam 15 tahun.

Hal ini menjadi bahan evaluasi terapi endoktrin yang memberikan  tamoxifen atau aromatase inhibitor selama lima tahun setelah tumor diangkat, untuk mengurangi risiko kekambuhan. Beberapa ahli percaya, pengobatan harus diperpanjang hingga 10 tahun.

Namun, perpanjangan terapi endoktrin ini juga memiliki evek samping
Efek sampingnya bisa meliputi mata panas, kekeringan vagina, osteoporosis dan nyeri sendi. (13 Faktor Penyebab Kanker Payudara)

Untuk itu, keputusan tetap diserahkan kepada pasien yang bersangkutan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk meneruskan terapi anti-estorgen lebih dari 5 tahun dengan memperhatikan efek samping dan toksisitas terapi. (R)





Monday, January 15, 2018

Apa Penyebab Kanker Payudara? Lihat 13 Faktor Ini

Waspadai ada 13 Faktor Penyebab Kanker Payudara.


Apa sebenarnya penyebab kanker payudara? Berdasarkan beberapa artikel yang saya baca, dijelaskan bahwa hingga kini, para pakar kesehatan tidak dapat memastikan penyebab kanker payudara. 

Setiap pasien dapat memiliki penyebab yang berbeda-beda. Untuk itu, setiap orang baik wanita atau pria dianjurkan selalu waspada terhadap gejala kanker payudara dengan cara memeriksa diri sendiri (Sadari). 


Dihimpun dari beberapa hasil penelitian, ternyata beberapa faktor dibawah ini dapat memengaruhi tingkat risiko seseorang terkena kanker payudara, diantaranya :

Jenis Kelamin

Ini merupakan faktor genetik. Para peneliti menyimpulkan bahwa wanita lebih beresiko 100 kali terkena kanker payudara dibandingkan pria.

Usia

Penambahan usia seseorang berpengaruh kepada faktor risiko terkena kanker payudara. Sekitar 8 dari 10 pasien yang menderita kanker payudara berusia diatas 50 tahun. Sebagian besar penderita sudah memasuki masa menopause.

Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga atau kerabat dekat yang menderita kanker payudara juga menjadi salah satu faktor risiko seseorang terkena kanker payudara. Jika ditemukan kasus keluarga terdekat menderita kanker ovarium atau payudara, segera lakukan skrining genetik kanker payudara.

Beberapa kasus kanker payudara tidak diturunkan dalam keluarga, tapi ada gen tertentu yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara, misalnya perubahan gen BRCA1 dan BRCA2.

Paparan Radiasi

Paparan sinar radiasi ternyata bisa menjadi pemicu berkembangnya sel-sel kanker pada jaringan payudara, misalnya karena prosedur medis rotgen, CT scan, dan lainnya. Atau orang-orang yang bekerja pada pabrik yang menghasilkan radiasi kimia. (7 Aktivitas Mencegah Kanker Payudara)

Terapi Hormon

Terapi penggantian hormon esterogen dan terapi hormon kombinasi sering dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Dari 1.000 wanita yang menggunakan terapi hormon selama 10 tahun, 19 diantaranya terkena kasus kanker payudara. Terapi hormon pengganti yang dilakukan untuk membuat hormon kembali normal, dalam waktu lima tahun harus dihentikan. Penghentian terapi hormon ini efektif mencegah kanker payudara.

 Pil KB

Meminum pil KB memang dapat mencegah kehamilan, tapi kandungan estrogen dalam pil KB menstimulasi sel peyudara. Dosis hormon yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Penelitian tentang kanker pada tahun 2014 menyatakan kontrasepsi yang diminum seperti pil KB oleh perempuan berumur 20 tahun sampai 49 tahun meningkatkan risiko kanker.

Obesitas

Ternyata, seorang wanita yang sudah mengalami menopouse dan memiliki kelebihan berat badan atau obesitas berisiko tinggi terkena kanker payudara. Hal ini diduga berkaitan dengan jumlah estrogen dalam tubuh, sebab  kegemukan setelah menopouse membuat tubuh lebih banyak memproduksi estrogen.

Konsumsi Minuman Keras

Wanita yang mengonsumsi minuman keras memiliki risiko terkena kanker payudara  kali lebih besar dibandingkan yang tidak mengonsumsi alkohol. Risiko ini akan semakin meningkatkan seiring semakin banyaknya alkohol yang diminum.

Ada Benjolan Jinak

Memiliki benjolan pada payudara bukan berarti seseorang terkena kanker payudara, tapi benjolan tertentu bisa meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Terjadinya perubahan pada jaringan payudara walau pun kecil, itu dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Kepadatan Payudara

Payudara wanita memiliki jaringan kelenjar penghasil susu atau lobulus. Jaringan payudara yang padat mengandung sel-sel yang lebih banyak sehingga risiko kanker payudara juga lebih besar.

Implan Payudara

Wanita yang menggunakan implan payudara dapat memicu kanker. Hal ini dipaparkan oleh para peneliti dari Kanada yang publikasikan dalam British Medical Journal pada Mei 2013.

Pernah Kena Kanker Payudara

Seseorang yang penah didiagnosis kanker payudara pada salah satu payudaranya, maka memiliki faktor risiko tinggi untuk terkena hal yang sama pada payudara yang lainnya, terutama jika  terdeteksi sel sel abnormal di sekitar payudara.

 Jam Kerja di Malam Hari

Sebuah penelitian yang dikutip dari Medical daily mengungkapkan permepuan yang bekerja pada malam hari lebih rentan terkena kanker payudara dibandingkan dengan perempuan yang tidak bekerja pada shif malam. Para peneliti menduga ini disebabkan oleh hormon melantonin yang terganggu akibat jam tidur berubah. Rendahnya kadar hormorn melantonin kerap ditemui pada pasien yang menderita kanker payudara.

(r)

Sunday, January 14, 2018

Ini Gejala Kanker Payudara Wanita dan Pria

Ini Beberapa Gejala Kanker Payudara
Beberapa gejala kanker payudara pada wanita dan pria memiliki kesamaan.

Kasus kanker payudara memang jarang terjadi para pria, tapi bukan berarti pria tidak beresiko terkena kanker payudara. Di Inggris, perbandingan pria dan wanita terkena kanker payudara sekitar 1 berbanding 100.

Breast Cancer Care, salah satu lembaga peduli kanker payudara di Amerika Serikat menyatakan setiap 10 menit, satu orang didiagnosis menderita kanker payudara. Gejala yang mirip antara wanita dan pria penderita kanker payudara adalah bengkak atau benjolan kecil di ketua ketiak, termasuk benjolan pada pada puting atau daerah payudara.

Namun, jika mendapat gejala benjolan pada payudara tidak perlu panik dulu sebab sebagian besar benjolan pada payudara tidak bersifat kanker. Ada sejumlah gejala lain yang harus diperhatikan dan dipantau secara intensif.

Seperti dilansir dari express.co.uk, National Health Servise (NHS) menguraikan gejala kanker payudara pada pria dan wanita secara terpisah, yaitu :

Gejala kanker payudara pada wanita:

1.    Adanya  benjolan baru atau jaringan yang menebal di kedua payudara yang sebelumnya tidak ada.
2.    Perubahan ukuran atau bentuk salah satu atau kedua payudara.
3.    Keluar  darah dari salah satu puting susu
4.    Benjolan atau bengkak di salah satu ketiak
5.    Kulit payudara mengerut
6.    Ruam  di puting susu atau sekitar puting susu.
7.    Perubahan tampilan puting susu seperti tertarik ke dalam atau menjadi cekung
8.    Nyeri pada payudara, tapi biasanya nyeri payudara bukan gejala kanker payudara.

Baca Juga : Apakah Kanker Payudara Bisa Kambuh?

Gejala kanker payudara pada pria:
1.    Benjolan di payudara, tapi ini biasanya sulit dideteksi karena tidak menimbulkan rasa sakit serta tidak bergerak dalam payudara.
2.    Puting susu tertarik atau beralih ke dalam (puting susu terbalik).
3.    Keluar cairan dari puting susu berupa darah atau nanah.
4.    Sakit atau ruam di sekitar puting susu yang tidak hilang-hilang.
5.    Puting atau kulit di sekitar payudara menjadi keras, merah dan bengkak.
6.    Benjolan kecil di ketiak karena pembengkakan kelenjar.

Jika ditemukan beberapa gejala diatas, disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter umum. Dokter akan merujuk untuk melakukan pemindaian atau USG payudara jika diperlukan. 

Jika Anda tidak memiliki gejala di atas, tapi memiliki riwayat keluarga yang terkena kanker payudara, maka disarankan untuk memeriksakan diri ke  dokter dan akan mengarahkan ke spesialis genetik untuk mendiskusikan risiko Anda terkena kanker payudara.  "Ada beberapa gen warisan yang meningkatkan risiko kanker dan tes darah dapat dilakukan untuk memeriksa ini." (R)




Thursday, January 11, 2018

Virus Herpes B

Herpese B berdampak mematikan pada manusia

Virus Herpes B ditularkan oleh monyet yang hidup di pinggir  rawa/sungai.
Peneliti menemukan 30% kera di Florida terinfeksi Herpes B.

Virus Herpes Simian B (macacine herpesvirus 1 (McHV-1)) merupakan virus simplek endemik pada monyet rawa. Virus B ini adalah alpha herpes virus yang terdiri dari subset virus herpes dan bergerak dalam indungnya menggunakan saraf perifer sehingga virus neurotropika ini tidak ditemukan dalam darah. Penelitian terbaru 3 Januari 2018 menemukan 30% monyet di Taman Negara Bagian Florida terinfeksi Herpes B.

 Di indung alaminya, virus ini menunjukkan petogenesis yang serupa dengan herpes simpleks (HVS) pada manusia. Namun, jika manusia terinfeksi virus Herpes B ini, maka akibatnya cukup fatal karena dapat menimbulkan kerusakan saraf pusat yang parah yang mengakibatkan kerusakan saraf otak permanen atau kematian. Jika tidak segera diobati, kemungkinan bertahan hidup pasien sangat tipis hanya sekitar 20%.

Virus herpes B pertama kali diidentifikasi pada tahun 1932 setelah kematian Dr. William Brebner, seorang dokter muda yang digigit monyet saat meneliti virus penyebab poliomielitis (polio) . Setelah digigit monyet tersebut, Brebner mengalami peradangan akut pada kulit berupa kemerahan pada kulit, diikuti oleh peradangan dan pembengkakan kelenjar getah bening, hingga berlanjut ke peradangan tulang belakang yang menyerang lapisan mielin, yaitu selaput yang menyelimuti serat sel saraf.

Jaringan neurologis yang diperoleh selama otopsi Brebner menunjukkan adanya virus yang tidak dikenal yang mirip dengan HVS. Isolat itu awalnya disebut virus ‘W’. Setahun setelah kematian Brebner, dr. Albert Sabin mengidentifikasi virus yang tidak dikenal pada jariangan yang sama, kemudian dia namai dengan virus B.

Lebih jauh Sabin menggambarkan bahwa virus B memiliki respon imun yang serupa dengan HVS dan HVP-2, dua virus yang ditularkan oleh primata bukan manusia.
Pada 1959, ditemukan 17 kasus infeksi virus herpes B pada manusia, 12 diantaranya meninggal dunia. Ditemukan hampir 50 kasus hingga 2002, tapi hanya 26 kasus yang terdokumentasikan dengan baik. Kasus virus B yang teridentifikasi terakhir terjadi pada 2008 di Atlanta.

Beberapa dekade terakhir ini penanganan kasus virus B yang terjangkit pada manusia semakin baik, antara tahun 1987 hingga 2004 tingkat kematian terus menurun. Hal ini karena diagnosis yang lebih baik dan penanganan pengobatan menggunakan aciclovir mencegah perkembangan penyakit pada pasien. Meski efektifitas pengobatan ini hanya 10%, tapi dapat menyelamatkan nyawa beberapa pasien. Pengobatan ini juga sangat penting untuk mencegah kerusakan saraf pusat yang permanen.